Pagi pagi setelah sembahyang Idul Fitri, saya mendatangi makam ibu  untuk mendoakan beliau, lalu
saya lanjutkan perjalanan ke alun alun kota Magelang yang terlebih dahulu melewati pemakaman daerah
yang ramai dikunjungi peziarah, saya merasa hidup itu semakin menjauh detik demi detik.

Saya hanya bisa menyadari  bahwa setiap hari membawa kita semakin dekat kepada kematian ?, atau
bahwa kematian itu sama dekatnya kepada diri kita sebagaimana pada saudara,keluarga dan sahabat
serta orang lain ?

Hari ini, kita hampir tak pernah mendapati jejak dari banyak orang yang telah meninggal dunia.
Mereka yang hidup saat ini dan mereka yang akan hidup kelak juga akan menghadapi kematian pada hari
yang telah ditentukan. Walaupun begitu, kita cenderung menganggap kematian sebagai peristiwa yang
tidak mungkin terjadi dan melupakan sejenak akan kematian, benar tidak ? Lebih banyak lupanya
daripada ingetnya.

Bayangkanlah dua peristiwa secara bersamaan, pertama seorang bayi yang baru saja membuka matanya
terhadap dunia dan yang kedua seseorang yang akan mengembuskan nafas terakhir. Keduanya tidak dapat
mengubah apa pun dari  jadwal kelahiran dan kematian mereka sendiri.

Semua manusia akan hidup sampai hari tertentu dan kemudian mati; saya hanya berbagi cerita apa benar
kebanyakan dari kita menghindari berpikir tentang kematian ?, nggak usah ahhh ngomong gitu pake mati
mati segala, setiap sahabat yang mendengar saya bicara soal mati.

Dalam pesatnya arus peristiwa sehari-hari, seseorang biasanya menyibukkan diri dengan hal-hal yang
sama sekali berbeda: di mana hendak kuliah,sulitnya mencari pekerjaan,apa warna pakaian yang akan
dikenakan besok pagi, jenis mobil nya apa, apa yang akan dimasak untuk makan malam, dan lain lain
inilah kejadian yang biasa kita pikirkan setiap hari.

Hidup dipandang sebagai proses rutin dari masalah-masalah seperti itu. Usaha untuk berbicara tentang
kematian selalu di interupsi oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengar tentangnya.

Karena menganggap kematian hanya akan datang setelah tua, orang tidak ingin merisaukan hal yang
tidak menyenangkan seperti itu. Namun, harus tetap diingat bahwa tidak ada jaminan bahwa seseorang
akan hidup sekadar satu jam lagi. Setiap hari, manusia menyaksikan kematian orang-orang di
sekitarnya, tetapi hanya sedikit berpikir tentang hari ketika kematiannya disaksikan orang-orang
lain. Dia tidak pernah mengira akhir seperti itu sedang menunggunya!

Bagaimanapun juga, ketika kematian mendatangi kita, semua “kenyataan” hidup tiba-tiba lenyap. Tidak
ada sisa dari “masa lalu yang menyenangkan” yang bertahan di dunia ini. Pikirkanlah segala sesuatu
yang dapat kita lakukan sekarang juga: Kita dapat mengedipkan mata, menggerakkan tubuh, berbicara,
tertawa; semua ini adalah fungsi tubuh kita. Sekarang pikirkanlah tentang keadaan dan bentuk tubuh
kita setelah kematian.

Ketika detik detik mengembuskan nafas terakhir, kita akan menjadi tak lebih dari “seonggok daging”.
Tubuh kita yang diam dan tak bergerak, akan dibawa ke rumah mayat. Di sana ,tubuh kita akan
dimandikan untuk terakhir kalinya. Dengan keadaan terbungkus kain kafan, jenazah kita akan dibawa di
dalam peti mati ke pemakaman. Begitu jenazah kita berada di dalam kubur, tanah akan menutupi Anda.
Inilah akhir dari kisah tentang kita.

Mulai sekarang, kita hanyalah salah satu nama yang tertulis di nisan pekuburan.

Teringat orang besar negeri ini yang sudah meninggal dunia, selama beberapa bulan dan tahun pertama,
kuburan  akan sering dikunjungi. Seiring berjalannya waktu, makin sedikit orang yang datang. Sepuluh
tahun kemudian, tak ada lagi yang datang.

Sementara itu, anggota keluarga dekat kita anak,istri, akan melalui segi berbeda dari kematian kita.
Di rumah, kamar dan tempat tidur kita akan kosong. Setelah pemakaman, hanya sedikit barang-barang
kepunyaan Anda yang akan disimpan di rumah: kebanyakan pakaian, sepatu, dan lain-lain milik kita
akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya.  Selama tahun-tahun pertama, sebagian orang akan
berkabung untuk kita. Namun, waktu akan mengikis kenangan yang kita tinggalkan. Empat atau lima
puluh tahun kemudian, hanya tinggal sedikit orang yang ingat akan kita. Tak lama, generasi baru akan datang dan tidak seorang pun dari generasi kita yang tersisa di muka bumi. Apakah kita diingat atau
tidak, tidak akan berharga bagi kita.

Sementara semua ini berlangsung di muka bumi, jenazah di bawah tanah akan melalui proses pembusukan
yang cepat. Segera setelah Anda berada di dalam kubur, bakteri dan serangga yang berkembang biak di
dalam jenazah karena tiadanya oksigen akan mulai berfungsi. Gas-gas yang dikeluarkan dari
organisme-organisme ini akan menggembungkan tubuh, mulai dari bagian perut, mengubah bentuk dan
penampilannya. Busa bercampur darah akan meletup keluar dari mulut dan hidung karena tekanan gas-gas
pada diafragma. Begitu proses perusakan ini terjadi, rambut tubuh, kuku, telapak tangan dan kaki
akan rontok. Mengikuti perubahan luar ini, di dalam tubuh, organ-organ dalam seperti paru-paru,
jantung, dan hati juga akan membusuk. Sementara itu, adegan yang paling mengerikan berlangsung di
dalam perut, di mana kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas-gas dan tiba-tiba meletus,
menyebarkan bau busuk yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan berlepasan dari
tempat-tempat asalnya. Kulit dan jaringan-jaringan lunak akan hancur sama sekali. Otak akan membusuk
dan mulai tampak seperti tanah liat. Proses ini akan terus berlanjut sampai seluruh tubuh tinggal
kerangka. Masih cantikkah atau tampankah anda ?

Tidak ada kesempatan untuk kembali lagi ke kehidupan lama. Berkumpul bersama keluarga di meja makan,
bermasyarakat, atau memiliki pekerjaan yang terhormat tidak akan pernah mungkin lagi terjadi.
Pendeknya, “tumpukan daging dan tulang” yang kita beri identitas tersebut akan menghadapi akhir yang
menjijikkan.

Di sisi lain, Kita — atau tepatnya, jiwa Kita —akan meninggalkan tubuh ini segera
setelah Kita mengembuskan nafas terakhir. Sisa dari diri Kita  —jasad — akan menjadi bagian dari
tanah.

Ya, tetapi apa alasan terjadinya segala hal ini?

Akhir yang dahsyat yang menunggu manusia seharusnya membuatnya mengakui bahwa dia bukanlah sesosok tubuh, tetapi sebentuk jiwa yang “berdiam” di dalam tubuh. Dengan kata lain, manusia harus mengakui bahwa dia memiliki keberadaan di luar tubuhnya. Lebih jauh lagi, manusia harus memahami kematian jasadnya yang ia coba miliki seolah ia akan abadi di dunia fana ini. Namun jasad ini, yang ia anggap teramat penting, akan membusuk dan dimakan cacing suatu hari dan akhirnya tinggal kerangka.

Hari itu mungkin saja sangat dekat. Walau ada fakta-fakta ini, proses mental manusia cenderung untuk mengesampingkan apa yang tidak ia sukai atau ingini. Bahkan ia cenderung untuk menolak keberadaan hal-hal yang tak ingin dihadapi.

Kecenderungan ini paling jelas tatkala menyangkut kematian. Hanya penguburan atau kematian mendadak
dari keluarga dekatlah yang membawa kenyataan ini ke pikiran. Hampir setiap orang menganggap maut
jauh dari dirinya. Dianggapnya mereka yang meninggal dalam tidurnya atau karena kecelakaan adalah
orang lain dan apa yang mereka hadapi tidak akan pernah menimpa dirinya! Setiap orang mengira
dirinya terlalu muda untuk mati dan masih hidup bertahun-tahun lagi.

Namun mungkin sekali, orang-orang yang meninggal dalam perjalanan ke Hari Raya seperti Syaiful Jamil
dan istri berpikir begitu ?. Mereka barangkali tidak pernah berpikir bahwa koran hari berikutnya
akan memberitakan kematian istrinya. Sangatlah mungkin bahwa, saat saya, anda, sahabat saya membaca
baris-baris ini, Anda masih tidak menyangka akan meninggal segera setelah Anda menyelesaikannya atau
sekedar memikirkan kemungkinan bahwa hal itu terjadi. Barangkali Anda merasa bahwa masih terlalu
muda untuk meninggal karena masih banyak hal yang harus diwujudkan. Namun, ini hanyalah suatu
pengelakan dari kematian dan merupakan upaya gagal untuk melarikan diri darinya:

Manusia yang diciptakan dalam kesendirian hendaknya menyadari bahwa dia juga kan mati dalam
kesendirian. Namun, sepanjang hidupnya, ia hidup bagai kecanduan harta benda. Tujuan hidupnya
semata-mata untuk memiliki lebih banyak lagi. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanyake dalam kubur. Tubuh dikuburkan terbungkus dalam kafan yang terbuat dari kain termurah. Jasad muncul ke dunia ini sendirian dan meninggalkannya dengan cara yang sama.

 

« Back to Blog